­
In

Senja Pagi Hari

Kau yang mencintai senja dan aku yang mencintai pagi, Kau yang menunggu selesainya hari mengharapku tidak memulai hari lagi, Mentari yang kau benci adalah rembulan yang tak kuharapkan datang kembali. Maumu menghadiri gemerlap pesta malam, Mauku tertidur demi membanting tulangku lagi esok hari, Kau yang bergegas pulang untuk makan malam, Aku yang ingin lekas terperanjak untuk sarapan, Kau yang menyuruhku diam, Aku buat...

Continue Reading

In Puisi,

Kendala

Aku lelah sunyi sepi, Ke belantara hingar-bingar aku berlari, Namun disana jenuh; Aku muak, aku muntah darah. Aku benci, Terlalu tamak, ia tetiba meledak! Pecah semua Hancur berantakan. Aku sembunyi dibebatuan itu, Agar tenang tiada benderang. Namun aku didera agar keluar, Normal 0 false false false EN-US JA X-NONE ...

Continue Reading

In Puisi,

Sudah

Sudahlah, Jangan kau paksa ia menjadi merpati, Jika kau tahu hanya sepasang kaki yang dimiliki, Jika hanya kulit dan kuku yang menyelimuti, Jika hanya daging ini, Hanya tulang ini, Isi kepala seperti ini, Sudahlah, Jadi sudahlah kau sangkarkan manusia ini, Yang dijaga untuk kau terbangkan keatas langit, Mengepakkan sayap bebas yang tiada dimiliki. “Ia bisa, Ia bisa, Mengapa tak jua kau?” Sudah! Sudah...

Continue Reading

Powered by Blogger.

Instagram

Subscribe